Internet Mengikis Kemampuan Merenung

Dilansir dari GATRA, 27 Okt-2 Nov 2011

Judul : The Shallows; Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?
Penulis : Nicholas Carr
Penerjemah : Rudi Atmoko
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, Juli 2011
Tebal : xvi + 279 halaman


Perkembangan teknologi mutaakhir ditandai oleh pengaruh massif internet bagi masyarakat seantero dunia. Masyarakat begitu dimanjakan oleh sarana komunikasi yang satu ini. Lewat sifatnya yang dua arah, kita dapat mengirimkan sekaligus menerima pesan melalui jaringannya. Ini menjadikan sistem tersebut bermanfaat. Internet menghubungkan kita satu sama lain.

Internet merupakan media siaran personal dan juga komersial. Jutaan orang menggunakannya untuk mendistribusikannya ciptaan digital mereka sendiri, dalam bentuk blog, video, foto, lagu, dan podcast, juga mengkritik, mengedit, dan memodifikasi ciptaan orang lain.

Lantas, adakah yang salah dari internet? Pertanyaan ini penting dipancangkan saat membaca buku ini. Nicholas Carr, penulisnya, menguraikan sisi lain dampak negatif dari kegunaan dan manfaat internet yang oleh banyak orang ‘terlanjur’ dianggap positif. Buku yang masuk ke dalam finalis Pulitzer 2011 ini menyuguhkan perspektif berbeda. Puluhan penelitian yang dilakukan oleh para psikolog, pakar neurobiologi, pendidik, dan desainer web mengarah kepada kesimpulan yang sama

Saat sedang online, kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superfisial (hlm. 121). Akibatnya, otak kita tidak lagi difungsikan secara maksimal dalam kegigihan membaca media cetak, tapi beralih ke media online, yang dampaknya disadari atau tidak, telah “mengkerdilkan” fungsi pikiran.

Judul The Shallows, menurut Ninok Leksono dalam pengantar edisi Indonesia, secara harfiah menyiratkan orang-orang yang cara berpikirnya menjadi dangkal setelah terlalu dimanjakan oleh internet. Kalangan ini dicirikan sebagai orang yang tak sabaran, yang tak tahan berlama-lama membaca buku tebal atau artikel panjang. Yang lama dan yang bertele-tele sudah tak mendapat tempat lagi (hlm. xi). Fenomena inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Marshall McLuhan tahun 1960-an dalam bukunya yang terkenal, Understanding Media: The extensions of Man.

Understanding Media meramalkan ihwal hilangnya pikiran linear. McLuhan menyatakan bahwa “media listrik” abad 20—telepon, radio, film, televisi—akan mengakhiri tirani teks terhadap pikiran dan indra kita. Maka lewat buku ini, Nicholas mengingatkan pembaca, bahwa halaman teks online yang dilihat melalui layar komputer mungkin serupa dengan halaman teks tercetak. Meski demikian, menggulung atau mengklik dokumen web melibatkan tindakan fisik dan rangsangan saraf yang sangat berbeda dengan memegang dan membalik halaman buku atau majalah.

Sampai di sini, terdapat pertanyaan yang penting diajukan, bahwa dengan mempersoalkan dampak negatif penggunaan internet, tidakkah hal itu mengambinghitamkan perangkat teknologi untuk dosa penggunanya? Produk ilmu modern tidak dengan sendirinya bagus atau jelek; penggunanyalah yang menentukan nilai mereka.

Pernyataan itu sepintas memang ada benarnya, tapi Nicholas mengajak pembaca untuk melihat dari kacamata psikologi-klinis. Sebab penelitian juga menunjukkan bahwa tindakan kognitif membaca tidak hanya berpengaruh pada indra penglihatan, tapi juga indra sentuhan. Ini bersifat rabaan dan visual. Semua kegiatan membaca, tulis Anne Mangen, seorang profesor pelatihan sastra Norwegia, merupakan kegiatan multi-indra. Terdapat hubungan krusial antara pengalaman indra motorik terhadap wujud fisik hasil karya tertulis dan pemrosesan kognitif terhadap isi teks.

Internet mengarahkan perhatian kita dengan kegigihan lebih besar dibandingkan dengan televisi, radio, dan koran pagi. Ketika online, sering kali kita lupa tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Dunia nyata tenggelam ketika kita memproses simbol-simbol dan rangsangan-rangsangan yang datang melalui perangkat-perangkat kita. Dan yang dilakukan internet, menurut Nocholas, adalah mengikis kemampuan berkosentrasi dan merenung.

Internet, dengan demikian seperti dua mata pedang, di satu sisi merupakan anugerah, namun di sisi lain juga menjadi petaka. Ada harga yang harus dibayar mahal dengan menjadikan internet bak ‘candu’ dalam kehidupan. Dari semua media populer, buku mungkin yang paling resisten terhadap pengaruh internet. Penerbit buku telah menderita kerugian karena bisnis membaca telah berubah dari membaca halaman cetak menjadi membaca di layar.

*Ali Usman, pembaca buku, dan pegiat espeje community di Yogyakarta


5 komentar:

  1. terima kasih atas informasinya..
    semoga dapat bermanfaat bagi kita semua :) Desain mobil

    BalasHapus
  2. terima kasih atas informasinya..
    kunjungi juga website kami Mobil Cepat

    sukses selalu

    BalasHapus
  3. Jangan berhenti untuk terus berkarya, semoga

    kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
    keep update!velg mobil

    BalasHapus
  4. Jangan berhenti untuk terus berkarya, semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
    keep update!Lamborghini Veneno

    BalasHapus
  5. terima kasih atas informasinya..
    semoga dapat bermanfaat bagi kita semua :) Tompi

    BalasHapus